Asbâb al-Nuzûl: Kepentingan dan Pengaruhnya Dalam Penafsiran al-Qur`an – Bahagian I

A. Latar Belakang

Tidak diturunkan suatu ayat dari al-Qur`an melainkan dengan membawa hikmah yang tersembunyi. Al-Qur`an memberikan makna-maknanya secara jelas jika disesuaikan penafsirannya dengan perihal-perihal dan peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi penurunannya, maka dapat dikutip darinya mutiara-mutiara yang tidak terhingga nilainya. Makna-makna al-Qur`an merupakan suatu khazanah agung yang mesti digali dengan cara yang sebaiknya. Kaedah-kaedah penafsiran yang jelas bertujuan menjauhkan ajaran-ajaran moral al-Qur’an dari kekeliruan. Jesteru itu, al-Qur`an dapat memberi petunjuk kepada manusia ke jalan yang lurus dengan menegakkan asas kehidupan yang didasarkan pada keimanan kepada Allah dan risalahNya.

Seperti diakui oleh ulama`, penurunan al-Qur`an terbahagi kepada dua. Bahagian pertama: sebahagian yang diturunkan secara spontan. Dan bahagian kedua: diturunkan setelah adanya kejadian tertentu atau adanya pertanyaan. Pada sepanjang masa turunnya wahyu, yaitu dua puluh tiga tahun. Maka untuk memahami ayat-ayat yang termasuk dalam bagian kedua tersebut, seorang mufassir harus memperhatikan asbâb al-nuzûl karena ia di antara prinsip dalam memahami dan menafsirkan al-Qur`an. Pada titik itu terlihat kepentingan asbâb al-nuzûl dan pengaruhnya dalam memberikan penafsiran al-Qur`an yang benar.

Para mufassîr telah menetapkan ilmu-ilmu yang diperlukan oleh seseorang yang ingin memperoleh keahlian dalam menafsirkan al-Qur`an. Wajib ke atasnya menguasai sebagian besar dari ilmu-ilmu tersebut agar ia memiliki upaya menafsirkan al-Qur`an bersesuaian dengan sebenarnya. Jesteru, ia tidak akan melakukan kesalahan dalam penafsiran biarpun secara tidak sengaja. Salah satu di antara ialah mengetahui asbâb al-nuzûl, yang mampu membantu mufassir tersebut memahami maksud sebenar suatu ayat.

Ramai mufassîr Muslim yang mengambil berat akan kepentingan asbâb al-nuzûl sehingga mereka menghuraikannya secara ditil dalam karya-karya mereka. Di antara mereka ialah ‘Ali bin al-Madînî, al-Wâhidî, dan Jalâluddîn al-Suyuṯi. Mereka meneliti asbâb al-nuzûl sedalamnya agar dapat dikutip ajaran moral dan hukum-hakam darinya. Perhatian mereka terhadap asbâb al-nuzûl dapat menggambarkan perannya yang besar dalam ilmu al-Qur`an.

Persoalan yang timbul ialah bagaimana memperhatikan asbâb al-nuzûl menjadi suatu yang amat penting bagi para mufassir sehingga ia menjadi salah satu kaedah penting dalam penafsiran al-Quran. Bagaimana asbâb al-nuzûl memberi kesan yang nyata dalam memberikan penafsiran secara jelas pada ayat-ayat al-Qur`an yang ditafsir.

A. Pengertian Asbâb al-Nuzûl

Sebelum membahas lebih mendalam, langkah pertama harus diambil yaitu mengenal Asbâb al-nuzûl. Dalam bahasa Arab, perkataan (asbâb) adalah jama’ (sabab) bermakna tali dan setiap perkara yang menyampaikan suatu perkara ke lainnya. Sementara al-nuzûl berasal dari perkataan nazala, yang bermakna turun suatu sesuatu dari tingkat atas ke bawah. Sementara dari sudut istilah para mufassîr, ia merupakan ungkapan tentang peristiwa yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad saw, yang memerlukan penurunan satu ayat atau beberapa ayat al-Qur`an yang menjelaskan hukum Allah tentang peristiwa tersebut. Atau ia merupakan satu soalan yang diajukan kepada Nabi Muhammad saw daripada orang yang pernah bertemu baginda, seterusnya diturunkan satu ayat atau beberapa ayat yang menjawab pertanyaan tersebut.

Sesuatu peristiwa tidak dikategorikan sebagai sabab al-nuzûl suatu ayat al-Qur`an melainkan bahwa ia benar-benar pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad saw. Tidak termasuk dalam asbâb al-nuzûl peristiwa-peristiwa yang pernah pada zaman para nabi as sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw seperti azab yang menimpa umat-umat terdahulu. Tidak termasuk juga peristiwa-peristiwa yang akan berlaku pada masa akan datang seperti kejadian hari kiamat.

Umar Shihab dan Teungku M. Hasbi al-Shiddieqy menambah lagi dalam definisi asbâb al-nuzûl bahwa ia juga termasuk di antara peristiwa-peristiwa yang terjadi selepas ayat-ayat diturunkan disebabkan adanya sesuatu hikmah dan kerana peristiwa itu memberikan pengertiannya serta menjelaskan hukumnya oleh ayat-ayat yang telah diturunkan.

Dari pengertian di atas, dapat difahami bahwa asbâb al-nuzûl terbagi kepada dua bahagian. Bahagian pertama adalah asbâb al-nuzûl yang berkait dengan suatu peristiwa yang terjadi sebelum diturunkan suatu ayat atau sesudahnya seperti peristiwa yang dijelaskan oleh Sa’id bin Jabîr r.a ketika meriwayat sabab al-nuzûl ayat 2 surah Ali ‘Imrân, maksudnya:

“dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar”.

Sa’id bin Jabîr berkata: “bahwa ada seorang laki-laki dari Ghatfân menyimpan harta yang banyak, yang dimiliki oleh anak saudaranya yang yatim. Ketika si anak yatim itu mencapai usia baligh, ia menuntut hartanya daripada bapa saudaranya akan tetapi dia enggan menyerahkannya. Kedua-duanya mengangkat kes tersebut kepada Rasulullah saw. Kemudian diturunkan ayat tersebut di atas, apabila didengari oleh si bapa saudara ia berkata: kami patuh pada Allah dan rasulNya, kami berlindung dari dosa besar itu. Jesteru itu, ia menyerahkan harta tersebut kepada anak saudaranya. Rasulullah bersabda: siapa yang mencegah diri dari sifat tamak dan patuh pada Tuhannya, Tuhan akan memasukkannya ke dalam surgaNya”.

Dan bahagian kedua adalah asbâb al-nuzûl berkait dengan suatu pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad saw. Contohnya adalah seperti yang diriwayat oleh Abû Nu’aim dan Ibn ‘Asâkir ketika menafsirkan ayat 189 surah al-Baqarah maksudnya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”.

Abû Nu’aim dan Ibn ‘Asâkir berkata: “ Mu’az bin Jabal dan Tsa’labah bin ‘Utmah – kedua-duanya dari golongan al-Ansar – berkata: Wahai Rasulullah, ada apa pada bulan mula terbitnya halus seperti benang, kemudian ia bertambah saiznya sehingga ia menjadi besar. Ia menjadi separa dan berputar. Kemudian terus menjadi kurang saiznya dan menjadi semakin halus sehingga ia kembali menjadi seperti dahulunya. Ia tidak tetap pada satu kondisi saja, jesteru diturunkan ayat tersebut”.

Al-Barrâ` bin ‘Azib juga meriwayatkan sabab al-nuzûl ayat tersebut: “Pada masa jahiliyah, orang-orang yang berihram di waktu haji, mereka memasuki rumah dari belakang bukan dari depan. hal ini ditanyakan pula oleh Para sahabat kepada Rasulullah s.a.w., Maka diturunkanlah ayat ini”.

B. Pedoman Mengenali Asbâb al-Nuzûl.

Pedoman dasar para ulama` dalam mengetahui asbâb al-nuzûl ialah riwayat sahih yang berasal dari Rasulullah saw atau dari para sahabat baginda as. Itu disebabkan pemberitahuan para sahabat mengenai hal seperti ini, bila jelas, maka hal itu bukan sekadar pendapat (ra`yu), tetapi ia mempunyai hukum marfu’ (disandarkan pada Rasulullah saw). Al-Wâhidi mengatakan: “tidak halal berpendapat mengenai asbâb al-nuzûl Kitab kecuali berdasarkan pada riwayat atau mendengar langsung dari orang-orang langsung menyaksikan turunnya, mengetahui sebab-sebabnya dan membahas tentang pengertiannya serta bersungguh-sungguh mencarinya.” Inilah jalan yang ditempuh oleh ulama` salaf. Mereka amat berhati-hati untuk mengatakan sesuatu tentang asbâb al-nuzûl tanpa pengetahuan yang jelas.

Hal tersebut didukung oleh sabda Rasulullah saw ketika menyebut ancaman neraka bagi orang yang membuat penipuan terhadapnya:

“اتقوا الحديث عني إلا ما علمتم ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار ومن قال في القرأن برأيه فليتبوأ مقعده من النار”.

Artinya: “Takutlah kamu terhadap hadis dariKu kecuali apa yang telah kamu ketahui dan barang siapa yang mendustakanKu secara sengaja maka dia menempatkan dirinya dalam api neraka, dan barang siapa mengatakan sesuatu tentang al-Qur`an dengan pendapat (ra`yu)nya berarti dia telah sengaja menempatkan dirinya dalam api neraka. (H.R. al-Tirmizi).

Namun, yang penting untuk ditegaskan di sini adalah riwayat yang sahih tentang asbâb al-nuzûl hanya sedikit, bahkan sedikit sekali. Oleh karena mesti berhati-hati terhadap asbâb al-nuzûl yang diriwayatkan dengan jalur yang lemah (dhâ`îf) atau malah maudhû’ (yang direka), karena ia tidak mengandung nilai apa-apa secara ilmiah. Hal ini mewajibkan untuk merujuk dan mempelajari kembali sanad-sanad yang meriwayatkan asbâb al-nuzûl, mempergunakan metode al-jarh wa al-ta’dîl padanya, atau kembali kepada imam-imam hadits yang terpercaya dan kepada pendapat-pendapat yang kuat dalam hal itu. Dan, tidak ada diagnosis yang lebih kuat, selain diagnosis orang yang ahli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s