Asbâb al-Nuzûl: Kepentingan dan Pengaruhnya Dalam Penafsiran al-Qur`an – Bahagian III

Pengaruh Asbâb al-Nuzûl Dalam Penafsiran al-Qur`an

Aspek sosio-historis suatu ayat menjadi satu syarat dalam menafsirkan al-Qur`an, terutamanya untuk menerapkan asbâb al-nuzûl dalam berbagai perbezaan ruang dan waktu manusia ketika itu. Lagi pula, tanpa memahami al-Qur`an dalam konteks sejarahnya, maka tidak mungkin dapat difahami makna yang sebenarnya. Disebut dalam hampir semua karya yang khusus dalam ilmu-ilmu al-Qur`an bahwa di antara ilmu-ilmu yang disyaratkan ke atas seorang mufassir sebelum menafsirkan ayat al-Qur`an adalah ilmu mengenai asbâb al-nuzûl. Bahkan kenyataan tersebut didukung oleh kesepakatan (ijmâ’) para ilmuan Islam pada zaman klasik dan moden.

Oleh karena itu, tiada kefahaman mengenai asbâb al-nuzûl akan menjerumus mufassir kepada kemusykilan dan kebingungan lalu ia menempatkan nasnas yang zahir di tempat musytarak (umum). Maka ia memahami ayat bukan dengan maknanya yang sebenar dan tidak mencapai hikmah daripada penurunannya, malah terjadi perbezaan yang mengelirukan ketika memberi pendapat. Maka, kenyataan al-Wâhidi tentang asbâb al-nuzûl adalah benar: “tidak mungkin mufassir dapat mengetahui penafsiran suatu ayat al-Qur`an tanpa memahami kisahnya dan penjelasan tentang penurunnya”.

Pernyataan al-Wâhidi diperkuatkan lagi oleh banyak kenyataan daripada tokoh-tokoh ilmuan al-Qur`an yang lain. Di antara mereka adalah Ibn Taimiyah, beliau menyatakan: “mengetahui asbâb al-nuzûl membantu kita untuk memahami makna ayat, kerana dapat diketahui bahawa mengetahui sebab memberikan ilmu tentang musabab”. Ibn Daqîq al-‘Iid berkata: “menjelaskan asbâb al-nuzûl adalah cara yang terbaik dalam memahami makna-makna al-Qur`an”. Abû al-Fath al-Qusyairi berkata: “menjelaskan asbâb al-nuzûl adalah jalan yang kuat dalam memahami makna-makna al-Kitâb al-‘Azîz (al-Qur`an), ia adalah suatu perkara yang memberi kepada para Sahabat indikator-indikator yang membantu menangani permasalahan”. Al-Syâṯibi berkata: “mengetahui asbâb al-nuzûl adalah wajib bagi orang yang ingin mengetahui ilmu yang terkandung al-Qur`an”.

Tanpa memahami asbâb al-nuzûl, pasti manusia pada hari ini masih berada dalam dosa dan maksiat, seperti apabila sekelompok manusia yang membolehkan minuman arak ketika mereka menafsirkan ayat-ayat yang berkaitan dengannya dalam surat al-Mâ`idah ayat 93 yang bermaksud:

“Tidak menjadi dosa ke atas orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang baik karena memakan makanan yang telah mereka makan ketika dahulu (jâhiliyah), apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang baik, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.

Diriwayatkan daripada Utsmân Bin Mazh’ûn dan ‘Amru Bin Ma’dayakrib bahwa kedua mereka berkata: “arak boleh diminum”, dan mereka berhujah dengan ayat di atas sedang mereka tidak mengetahui sabab nuzûl-nya bahwa arak telah diharamkan. Al-Hasan berkata: “ketika diturunkan ayat pengharaman arak, para sahabat berkata: “bagaimana halnya saudara-saudara kami yang telah meninggal sedangkan ia (arak) pernah masuk ke dalam perut-perut mereka? Allah mewahyukan kepada kami bahwa ia adalah kotoran! Maka diturunkan firman Allah, maksudnya:

Apabila asbâb al-nuzûl tidak diperhatikan secara serius, kekeliruan sering muncul seperti apa yang berlaku pada kelompok yang salah menafsirkan surat al-Baqarah ayat 115, maksudnya:

“Dan milik Allah timur dan barat, Maka kemana pun kamu menghadap di situlah ‘wajah’ Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui”.

Mereka mengizinkan berpaling ke arah mana yang mereka ingin menghadapnya. Akan tetapi orang yang memahami sabab nuzûl-nya akan berkata: “ayat ini diturunkan untuk menyelesaikan pertikaian di kalangan para sahabat yang menunaikan solat bersama Nabi Muhammad dalam kegelapan malam, mereka tidak yang mana arah kiblat. Maka masing-masing bersolat mengikut keadaan tersendiri (sebagai mengikut ijtihâd masing-masing)”.

Terdapat ayat yang mempunyai sabab nuzûl meringankan beban manusia seperti pemendekkan tempoh ‘iddah seorang wanita yang suaminya meninggal dunia, yang tersebut dalam surat al-Baqarah ayat 240, maksudnya:

“Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh berpindah (dari rumah arwah suaminya). akan tetapi jika mereka pindah (dengan sendiri), Maka tidak ada dosa bagimu (sebagai wali atau waris dari si mati) membiarkan mereka berbuat yang ma’rûf terhadap diri mereka. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Al-Wâhidi meriwayatkan bahwa sabab nuzûl ayat ini dari Ibn Hayyân, ia berkata:

“ada seorang pemuda berasal dari Tâ`if datang ke Madinah dan ia mempunyai beberapa orang putera dan puteri, bersamanya orang tua dan isterinya. Kemudian ia meninggal dunia di Madinah, khabar itu disampaikan kepada Rasulullah saw. Baginda telah memberikan orang tua dan anak-anaknya bahagian pusaka dengan sebenar, dan tidak memberikan isteri si mati suatu pun dari pusaka tersebut. Selain baginda menyuruh mereka (waris si mati) memberi pembiayaan kepadanya (si isteri) dari bahagian pusaka dalam tempoh satu tahun”.

Ibn ‘Abbâs berkata tentang penafsiran ayat tersebut bahawa seorang suami apabila ia meninggal dunia dan ia meninggalkan isteri, hendaklah si isteri berkabung sepanjang tempoh satu tahun di dalam rumahnya dan diberikan pembiayaan dari harta si suami. Kemudian Allah Taala menurunkan ayat yang meminda ayat tersebut, maksudnya:

   “Orang-orang yang meninggal dunia di antara kamu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber‘iddah) empat bulan sepuluh hari. kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka  menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”.

Ia berkata lagi: “maka ‘iddah itu adalah wajib ke atas wanita yang kematian suami melainkan yang hamil maka ‘iddah-nya sehingga melahirkan anak”.

Berdasarkan penelitian terhadap penafsiran ayat-ayat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahawa pemahaman asbâb al-nuzûl sebagai “konteks khusus” mempengaruhi 70% dari pemahaman ayat. Impaknya amat jelas dalam membantu menghilangkan kemusykilan dan kekeliruan. Konteks umum pula mempengaruhi 20% dari pemahamannya, sementara 10% adalah kebahasaan teks seperti sudut tatabahasa dan kesasteraann.

Pemahaman asbâb al-nuzûl memberi pengertian yang jelas tentang konteks dan makna sebenar dari ayat yang ditafsir. Ia memudahkan penerapan moral dan hukum pada masa dahulu ke masa kini, bahkan kenyataan itu menunjuk universalisme al-Qur`an. Di antara contoh yang dapat dilihat daripada penerapan tersebut adalah keputusan tidak memotong tangan seorang pencuri oleh ‘Umar Bin al-Khattâb terhadap pada musim kebuluran. Jika dilihat pada zahir nas, secara jelas dikatakan bahwa ‘Umar telah melanggar hukum al-Qur`an. Akan tetapi ‘Umar tidak pernah menentang al-Qur`an apabila beliau mempertimbangkan secara objektik keadaan sosial masyarakat yang tidak kondustif untuk melaksanakan hukum potong tangan tersebut. Perlakuan ‘Umar didasarkan pada kenyataan bahawa boleh jadi orang yang mencuri terdesak oleh kehidupan yang amat sulit, sehingga ia terpaksa mencuri untuk meneruskan hidup diri dan keluarganya. Jika tidak melakukan demikian, si pencuri dan keluarganya akan mati kebuluran. Sudah tentu timbul persoalan apakah Allah membiarkan hambaNya yang mencuri dipotong tangannya, padahal ia mencuri karena kelaparan?

C. Penutup

Al-Qur`an merupakan al-Kitâb yang mengandungi teks yang diturunkan secara beransur-ansur dalam konteks yang berbagai baik umum atau khusus, atau keduanya pada satu masa. Maka teks al-Qur`an tidak akan difahami melainkan setelah memahami konteks yang melatar belakangi penurunannya kerana makna-makna yang sebenar terkandung dalam konteks tersebut. Bertolak dari sini, kepentingan asbâb al-nuzûl ditekankan dan mempelajarinya menjadi satu kewajipan bagi setiap individu yang menjadi penafsir kitab suci tersebut.

Sehingga hari ini, tidak ada orang secara serius berani menafsirkan ayat al-Qur`an tanpa memerhatikan sabab nuzûl-nya karena kesedaran mereka tentang kepentingan dan pengaruhnya dalam penafsiran. Ulama` memelihara kesucian al-Qur`an dengan memelihara riwayat-riwayat yang menjelaskan ayat-ayatnya termasuk riwayat-riwayat yang menukilkan asbâb al-nuzûl. Lebih dari itu, ulama` mengutuk orang-orang yang menafsirkan al-Qur`an seenaknya, tanpa menggunakan kaedah-kaedah yang telah diatur. Maka ilmu asbâb al-nuzûl tidak boleh terpisah dan dipisah dari al-Qur`an biar satu detik karena keduanya saling berhubungan dengan pertalian yang kukuh.

Kajian al-Qur`an yang seutuhnya melalui baik teks dan konteks harus ditekankan pada masa kini karena ia merupakan kitab suci orang sehingga hari kiamat. Para ulama` berhasil menghubungkan al-Qur`an dengan realitas kekinian secara maksimal walaupun ia adalah satu tugasan yang berat. Malah karya-karya tafsir yang dikarang juga dapat dipertanggungjawabkan secara sepenuhnya walaupun dituju banyak kritikan. Penerapan pemahaman asbâb al-nuzûl berterusan akan memberi pemahaman yang sempurna dalam penafsiran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s